Ekonomi

IHSG Balik Loyo dalam Akhir Sesi I, Lagi-Lagi BREN Jadi Biang Keladi

Wanderviews.com –

Jakarta – Skala Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau berbalik ke zona merah pada perdagangan sesi I hari terakhir pekan (7/6/2024), setelah sempat dibuka pada zona hijau pada awal pertemuan I hari ini.

Hingga pukul 11:30 WIB, IHSG terkoreksi 0,57% ke tempat 6.935,26. IHSG masih cenderung bertahan di tempat level psikologis 6.900.

Nilai operasi indeks pada sesi I hari ini telah mencapai sekitar Mata Uang Rupiah 3,6 triliun dengan melibatkan 7,4 miliar saham yang tersebut berpindah tangan sebanyak 430.487 kali. Sebanyak 249 saham menguat, 274 saham melemah, dan juga 230 saham stagnan.

Secara sektoral, sektor infrastruktur menjadi pemberat terbesar IHSG di dalam sesi I hari ini, yakni mencapai 1,05%.

Selain itu, beberapa saham juga terpantau menjadi penekan (laggard) IHSG pada sesi I hari ini. Berikut daftarnya.

Lagi-lagi, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi penekan terbesar IHSG dalam pertemuan I hari ini, yakni mencapai 25,2 indeks poin.

Bahkan, saham BREN kembali menyentuh auto reject bawah (ARB) pada pertemuan I hari ini, di area mana telah enam hari saham BREN menyentuh ARB sejak suspensinya kembali dibuka pada Rabu pekan lalu.

Perdagangan saham BREN masih mempergunakan sistem full call auction (FCA), sehingga pergerakannya masih cenderung sulit untuk diprediksi, walau ada Indicative Equilibrium Price (IEP) sebagai acuan pergerakannya pada hari ini.

IHSG cenderung merana walaupun sentimen lingkungan ekonomi global pada hari ini cenderung positif. Membaiknya sentimen bursa global terjadi pasca bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuannya, menjadi yang tersebut pertama bank sentral Negara Barat yang digunakan telah lama menurunkan suku bunga acuannya.

ECB kemarin menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk pertama kalinya sejak 2019 dari level tertingginya sebesar 4,5%.

Suku bunga utama diturunkan menjadi 4,25%, suku bunga prasarana simpanan menjadi 3,75%, lalu suku bunga pinjaman marjinal menjadi 4,5%. Namun, tekanan nilai tukar pada negeri masih masih tinggi, yang mana menunjukkan masih adanya tantangan inflasi.

Inflasi di dalam 20 negara yang menggunakan mata uang euro telah lama turun dari tambahan dari 10% pada akhir 2022 menjadi sedikit dalam menghadapi target ECB sebesar 2% pada beberapa bulan terakhir, sebagian besar disebabkan oleh rendahnya biaya material bakar serta normalisasi pasokan pasca beberapa kendala paska pandemi.

Namun kemajuan yang dimaksud terhentikan baru-baru ini juga apa yang dimaksud tampak seperti dimulainya siklus pelonggaran ECB beberapa minggu yang tersebut lalu pada masa kini tampak lebih tinggi tiada pasti sebab tanda-tanda bahwa pemuaian zona euro kemungkinan besar akan stagnan atau stagflasi, seperti yang mana terjadi di tempat Amerika Serikat (AS)

Para pelaku lingkungan ekonomi juga mengharapkan bank sentral Negeri Paman Sam (Federal Reserve/The Fed) mengikuti jejak dari ECB yang memangkas suku bunganya pada tahun ini.

Mengutip perangkat FedWatch, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini sebesar 99,9%.

Para pelaku lingkungan ekonomi mengawasi kemungkinan penurunan suku bunga tahun ini terjadi dua kali, yakni pada rapat September juga Desember.

Harapan ini didukung oleh beberapa jumlah data tenaga kerja juga performa manufaktur Amerika Serikat yang terlihat lesu.

Terbaru, total orang Amerika yang dimaksud mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran meningkat minggu lalu serta biaya unit tenaga kerja naik lebih banyak kecil dari perkiraan sebelumnya pada kuartal pertama, menunjukkan pangsa tenaga kerja sedang mendingin tetapi tidaklah cukup untuk menghilangkan keraguan Federal Reserve terhadap kebijakan tersebut. mulai memotong suku bunga.

Klaim awal tunjangan pengangguran negara bagian naik 8.000 menjadi 229.000 yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang mana berakhir 1 Juni, Departemen Tenaga Kerja mengungkapkan pada hari Kamis. Ekonom yang disurvei oleh Media Reuters memperkirakan 220.000 klaim pada minggu terakhir.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah hasil jurnalistik sebagai pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini bukan bertujuan mengundang pembaca untuk membeli, menahan, atau memasarkan komoditas atau sektor penanaman modal terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang mana timbul dari langkah tersebut.

Artikel Selanjutnya 3 Saham Prajogo Pangestu Kompak Dibuang Investor, IHSG Terkapar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button