Teknologi

Waspada! Berkedok Percintaan, Dompet Digital Terkuras

Wanderviews.com – Didorong pergerakan digitalisasi yang digunakan cepat dalam Asia Pasifik (APAC) juga pertentangan geopolitik, para ahli dalam Kaspersky memperkirakan lanskap ancaman siber yang dimaksud akan datang di tempat wilayah yang dimaksud pada tahun ini.

Perusahaan keamanan siber global mengungkapkan bahwa, khususnya, bahaya phishing, penipuan, pelanggaran data, serta serangan siber bermotif geopolitik tampaknya terus menyasar organisasi dan juga individu di tempat wilayah tersebut.

“Ekonomi digital di dalam Asia Pasifik terus berkembang secara eksponensial kemudian diperkirakan akan terus mempertahankan momentumnya pada lima tahun ke depan,” kata Vitaly Kamluk Kepala Pusat Penelitian Asia Pasifik, Tim Penelitian serta Analisis Global (Global Research and Analysis Team/GReAT) dalam Kaspersky.

Dengan upaya digitalisasi termasuk adopsi teknologi seperti pembayaran digital, ia menambahkan, Super Apps, IoT, kota pintar, juga sekarang Kecerdasan Buatan (AI) generatif, keamanan siber akan menjadi kunci utama untuk melakukan konfirmasi seluruh pertahanan di area kawasan ini terhadap peluang serangan siber yang dimaksud merusak.

“Dalam kaitannya dengan Ancaman Persisten Level Lanjut (Advanced Persistent Threats/APT) yang dimaksud canggih, kami telah terjadi mengawasi bahwa spionase dunia maya masih menjadi tujuan utama kelompok-kelompok Asia,” ungkapnya.

Ilustrasi peretas sedang melancarkan serangan siber. [Shutterstock]
Ilustrasi peretas sedang melancarkan serangan siber. [Shutterstock]

Diperkirakan tren ini akan terus berlanjut pada tahun 2024 oleh sebab itu ketegangan geopolitik yang tersebut ada di area kawasan ini.

Peneliti GReAT Kaspersky juga sudah merinci prediksi utama ancaman siber pada tahun 2024 untuk negara juga wilayah utama di area Asia Pasifik.

Skala penggelapan di area Asia Tenggara

Menurut laporan PBB, banyak ribu orang dari Asia Tenggara (SEA) direkrut untuk bergabung pada operasi penyalahgunaan online seperti kecurangan pembangunan ekonomi percintaan, kecurangan kripto, pencucian uang, serta perjudian ilegal.

Perekrutan untuk operasi kriminal ini sebagian besar dijalankan melalui peran profesional yang mana diiklankan seperti pemrogram, pemasar, atau spesialis sumber daya manusia, melalui prosedur yang tersebut tampak sah juga bahkan rumit.

Meningkatnya penyelenggaraan kemudian kepercayaan terhadap metode pembayaran digital, kurangnya kebijakan yang tersebut melindungi hak-hak pengguna online.

Selain itu, banyaknya orang yang tersebut terpaksa bergabung pada operasi penipuan online menambah kompleksitas hambatan besar di tempat Asia Tenggara dan juga penyelesaiannya.

Menurut Kamluk. penegak Hukum sedang menangani sejumlah perkara tersebut, yang mana melibatkan serangan kecurangan lalu phishing.

“Kami sudah pernah mengamati operasi yang tersebut berhasil pada tahun 2023, seperti operasi gabungan Polisi Federal Australia (AFP), dan juga Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) danKepolisian Negara Malaysia yang digunakan berhasil menangkap 8 orang di area balik sindikat yang dimaksud menjalankan kampanye phishing sebagai layanan online,” katanya.

Ilustrasi email phising. [Freepik]
Ilustrasi email phising. [Freepik]

“Kami berpendapat bahwa skala penyalahgunaan online dan juga serangan phishing di area Asia Tenggara akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang akibat kurangnya pengetahuan teknis kemudian hukum dari berbagai orang yang digunakan terlibat pada serangan tersebut, mulai dari operator hingga
korban,” pungkasnya.

(Sumber: Suara.com)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button